Langsung ke konten utama

Intrauterine Insemination (IUI) Converted to In Vitro Fertilization (IVF) / Inseminasi Dikonversi Ke Bayi Tabung

Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya, malam sepulang kami dari rumah sakit dan mendapatkan kabar yang di luar dari dugaan, tidak ada dalam rencana kami sebelumnya, karena selama ini, sudah dua kali terbukti jika hanya PCOS saja yang menjadikan rintangan dari impian kami berdua, dan sekarang ditambah dengan OAT?

Saya tidak banyak berbicara, suami lebih banyak diam, tidak seperti biasanya, terkadang pandangannya menerawang, sesekali menoleh kepada saya, lalu menanyakan kenapa ini bisa terjadi, walaupun suami tahu saya juga tidak mengetahui alasannya. Belakangan ini pola hidup suami tidak berbeda dari biasanya, pergi ke kantor, pulang sore, tidak ada lembur, pola makan dan tidur juga sama seperti sebelumnya, tetapi mengapa hasilnya berbeda?

Entah kenapa kali ini saya lebih tenang daripada sebelum-sebelumnya, daripada saat dulu ketika promil kami tidak berjalan lancar, seperti akhir tahun lalu yang tidak ada satupun sel telur saya yang berkembang walau sudah dibantu dengan obat hormon, saat itu saya frustasi, saat ini tidak sama sekali. Saya diam hanya karena saya berusaha memilih kata untuk menghibur suami, saya tidak mau terlalu banyak bicara karena saya ingin suami dapat menenangkan pikirannya lebih dulu.

Ini ujian sayang, ujian bagi kesungguhan kita, bukankah sedari awal sudah kita pasrahkan semuanya kepada Allah Ta'ala? Aku mencintaimu sehingga aku dapat menerima semua kekuranganmu, bukankah kamu juga begitu? Kamu yang pertama menerimaku saat aku pun belum bisa menerima keadaan diriku sendiri, dan memberikan aku semangat di titik terendah di hidupku. Tidak sekalipun kamu menyudutkanku apalagi menyalahkanku. Tak pernah satu kalipun aku lihat raut wajah kesedihan atau kekecewaan di wajahmu karena kondisiku. Kamu yang selalu berusaha semampumu untuk membahagiakanku, apakah ada terlintas kekhawatiran di pikiranmu jika aku akan menyalahkanmu saat ini? Membayangkannya saja aku tak sanggup.

Ternyata Paksu lebih tegar dari yang saya kira, keesokan harinya mood-nya sudah kembali seperti biasa, kami tidak bisa terpuruk terlalu lama, ada rencana yang sudah menanti. Hari ini bertepatan dengan hari kedua haid, yang artinya hari pertama saya suntik stimulasi Gonal F, ada yang bilang suntik ini sakit, sehingga saya penasaran bagaimana rasa suntikannya, ternyata tidak terasa sama saya.

Suntikan pertama dimulai hari minggu tanggal 5 Agustus 2018, setelah menerima suntikan Gonal F 75IU selama enam hari berturut-turut, dokter Hilma menginformasikan jika USG pertama dilakukan pada hari ke-8 saja, karena beliau khawatir jika sel telur saya kurang merespon suntikan dosis rendah tersebut. Benar saja, saat di USG sel telur saya merespon tetapi ukurannya masih jauh dari yang seharusnya, jika hari kedelapan diharapkan ada satu sel telur yang berukuran 10mm, maka sel telur saya yang paling besar hanya sekitar 7mm saja.

Saat menunggu dokter datang bersama Paksu

Hari itu dosis suntikan saya dinaikkan menjadi 150 IU, tadi pagi suami juga sudah melakukan Analisis Sperma ulang atas petunjuk dokter kemarin, dan hari ini dokter membacakan hasilnya, ya seperti menunggu pengumuman kelulusan sekolah, saya lumayan deg-degan, hingga akhirnya dokter memberitahukan jika hasilnya ada peningkatan. Alhamdulillah.. Tetapi masih jauh dari kata baik. Loh? Dari segi konsentrasi jumlah sudah naik menjadi dua belas juta yang sebelumnya hanya dua juta, tetapi masih di bawah angka normal yakni lima belas juta, walaupun sudah melewati batas jumlah untuk inseminasi yaitu sepuluh juta. Segi gerakan (motility) yang bergerak cepat (progressive) naik menjadi 3% yang sebelumnya 0%. Sementara dari segi bentuk normal (normal forms) masih tetap sama, 2%.

Jadi bagaimana dok? Saya bertanya perlahan, berharap dokter katakan jika ini masih bisa dilanjutkan. "Ya bisa (dilanjut)." Fuh saya bernafas lega.
"Tapi.." Huh gak jadi lega, kalau udah ada tapi pasti ada embel-embelnya kan.
"Saya pesimis ini akan berhasil, dilihat dari hasil sperma bapak. Saya gak bilang ini gak bisa, karena jika Allah berkehendak apa yang gak bisa, tetapi dari sisi medis, ini sulit bu."
Saya tidak membantah, karena sebenarnya saya sendiri juga bisa menganalisa dari kondisi kami berdua saat ini.
"Saya tidak memaksa bu, jika memang ibu masih tetap mau lanjut inseminasi, ayo kita lanjutkan, tapi kalau boleh saya sarankan, dengan kondisi seperti saat ini, lebih baik convert ke IVF aja bu. Perlu digarisbawahi, tidak semua pasien saya yang inseminasi saya sarankan untuk convert ya bu, tergantung kondisi pasangan."
Saya mengerti dok, saya percaya dokter tidak akan memberi saran yang gegabah, saya sendiri pun bisa menelaah kondisi kami. Dosis suntikan saya yang sudah ditambah menjadi dua kali lipat, yang berarti resiko OHSS pun menjadi dua kali lipat, dan kondisi sperma yang masih di bawah normal, jangankan dokter, awam sekalipun seperti saya dapat berpikir jika memang dilanjutkan untuk inseminasi, itu menjadi suatu hal yang agak dipaksakan, dari segi resiko yang tinggi dan tingkat keberhasilan yang rendah.
"Begini saja, coba ibu pikirkan baik-baik dulu di rumah sama bapak, tolong kasi saya keputusannya kira-kira tiga hari lagi, sambil kita liat besok apakah respon sel telur ibu sudah bagus atau belum.", kata dokter Hilma menutup pertemuan kami hari itu.

Sepulangnya dari rumah sakit entah mengapa kondisi emosional saya sedang tidak stabil, saya gagal mengendalikan diri saya dan akhirnya stress pun melanda. Kesiapan saya hanya sampai inseminasi saja, sama sekali tidak pernah terpikir oleh saya jika ada pilihan lain seperti IVF. Bahkan saya sempat mengatakan kepada suami untuk berhenti saja sampai disini, karena sepertinya jalan ini bukan untuk kami. Melihat saya yang demikian rapuh, suami pun tidak bisa memaksakan apapun kepada saya.

Esoknya saya memutuskan untuk kembali menjalani prosesnya, mencoba melihat perkembangan sel telur dan saya pun kembali ke rumah sakit untuk suntik. Seperti kemarin dokter Hilma mengecek kondisi sel telur saya terlebih dahulu, dan ternyata ukurannya masih sama, sel telur saya tetap tidak merespon walaupun suntikannya sudah dinaikkan menjadi dua kali lipat, hari itu dosisnya ditambah menjadi 175IU. Apakah ini ada kaitannya dengan stress yang saya alami kemarin malam?

Hari ke-10 dari HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) sel telur saya bertambah 1mm, masih terbilang lambat dengan suntikan yang dosisnya sudah lumayan besar tersebut, jadi kembali dosis suntikan hari itu dinaikkan menjadi 225IU yang berarti sudah tiga kali lipat dari dosis awal. Berarti resiko dari OHSS juga menjadi tiga kali lipat. Dokter juga sudah menanyakan tentang keputusan kami, saya pun meminta waktu lagi untuk berpikir.

Hari ke-11 dokter Hilma sedang menangani kasus urgent di rumah sakit lain, saya diinstruksikan untuk suntik seperti biasa saja tanpa USG terlebih dahulu, suster pun menyuntikkan Gonal F dengan dosis yang sama seperti kemarin yakni 225IU, dokter juga berpesan agar besok saya sudah memberikan keputusan, karena hari ovulasi semakin mendekat, sehingga dokter bisa menyesuaikan tindakan sesuai dengan keputusan saya, IUI atau IVF.

Hari itu saya kembali berdiskusi kepada suami, sepertinya tidak ada pilihan untuk berhenti, karena prosedur penyuntikan sudah berlangsung sejauh ini, dan jika berhenti saat ini tidak menutup kemungkinan resiko OHSS tetap terjadi. Jauh di lubuk hati saya yang paling dalam saya ingin terus berjuang, walaupun sebagian dari diri saya ingin berhenti. Suatu dilema bagi saya yang mungkin tidak dimengerti orang lain selain suami saya, karena hanya pada suamilah saya luapkan segala kegelisahan dan kekhawatiran yang saya rasakan.

"Sudah, jangan dipikirkan, masalah biaya biar aku yang pikirkan. Kamu harus tetap fokus menjalani prosesnya saja.". Begitulah kurang lebih ucapan yang keluar dari mulut suami yang kemudian menyadarkan saya jika saya tidak sendiri. Masing-masing dari kami punya perjuangan tersendiri yang harus kami lewati. Apalagi ini memang langkah terbaik untuk permasalahan kami, jika kami lanjutkan ke IVF, resiko OHSS akan bisa diminimalisir, persentase keberhasilan juga lebih besar karena bisa dipilih satu sperma terbaik untuk satu sel telur, dan.. yang paling membuat suami bersemangat adalah, persentase kehamilan ganda yang besar! Saya berpikir inilah rezeki kami, inilah jalan yang Allah ta'ala berikan untuk kami, sudah sepatutnya saya bersyukur dan harus kami terima dengan ikhlas, jangan pernah ragukan masalah rezeki, bukankah kita hamba dari yang Maha Kaya dan Maha Pemurah? Bukankah tidak semua pasangan bisa berikhtiar seperti ini? Tak sepatutnya saya mengeluh.

Malam itu juga kami memantapkan langkah, membulatkan tekad, dan memberikan semangat satu sama lain. Hingga keesokan harinya saya mantap mengatakan kepada dokter, "Ayo dok kita convert aja ke IVF, biar usaha kita maksimal." lalu disambut dokter dengan sumringah. Hari ke-12 dosis saya kembali dinaikkan menjadi 275IU. Hari ke-13 ditambah suntikan Menopur 75IU agar pembesaran sel telur merata tidak dominan satu atau dua sel telur saja, dosis Gonal F pun dimantapkan menjadi 300IU.

Hari ke-14 dosis Gonal F tetap 300 IU dan Menopur 75IU. Pada hari ke-15 sudah ada folikel yang berukuran >14mm sehingga suntikan ditambah satu macam yakni Cetrotide, untuk menjaga folikel yang sudah besar tersebut tidak pecah duluan. Gonal F tetap 300 IU dan Menopur 75IU.

Akhirnya pada hari ke-16 saat USG sudah terlihat ada tiga buah folikel yang berukuran >17mm, sehingga sudah bisa dilakukan suntik pematangan malam ini, hari ini suntikan Gonal F sudah dihentikan, saya hanya diberikan suntikan Cetrotide. Dokter menginstruksikan saya untuk melakukan pemeriksaan hormon Estradiol dan Progesteron. Jadi selesai penyuntikan saya dan suami pun segera meluncur ke Laboratorium karena dokter memerlukan hasilnya malam ini juga. Setelah darah saya diambil kami pun bergegas pulang ke rumah, beristirahat beberapa jam, dan tepat pukul 10 malam, suami memesan taksi online untuk pergi ke rumah sakit, dan sekitar tiga puluh menit kami sudah sampai di tujuan. Sesuai instruksi saya pergi ke ruang IGD untuk mencari suster yang akan memberikan saya suntik pematangan sel telur, saya pun diminta untuk menunggu pukul 11 tepat sesuai dengan jadwal suntik yang diperintahkan dokter. Suster juga memberikan saya surat pengantar ke Laboratorium untuk pemeriksaan hormon LH esok siang.

Menunggu disuntik sambil ngantuk

Tepat pukul 11 malam, hanya berbeda satu jam saja dari Cinderella, saya pun masuk ke ruang IGD, dan suster pun memberikan saya suntikan Tapros 0,5 ke perut saya. Kenapa Tapros bukannya Ovidrell? Dokter katakan untuk meminimalisir resiko OHSS sehingga saya diberikan suntikan Tapros, apalagi saya sudah mengeluh beberapa hari belakangan perut saya sudah mulai kembung.

Hari ke-17 saya sudah sampai di Laboratorium pukul 10.30 untuk melakukan pemeriksaan pada pukul 11.00. Hari ini suami tetap menemani saya dan izin dari pekerjaannya, karena saya juga berharap suami dalam kondisi yang baik untuk pengambilan sperma esok hari. Sorenya kami ke rumah sakit dan saya kembali menerima suntikan Cetrotide di perut. Tindakan Ovum Pick Up (OPU) saya dijadwalkan esok pagi sekitar jam sepuluh pagi, saya diminta sudah berada di rumah sakit pukul sembilan pagi dan saya juga harus sudah mulai berpuasa makan dari malam hari.

Baiklah program ini akan mencapai puncaknya besok pagi, karena berdasarkan yang saya baca-baca saat tersulit pada program IVF itu adalah saat OPU, untungnya saja saya besok akan dianastesi total, saya cuma tinggal tidur, karena di tempat lain ada yang hanya dilakukan anastesi lokal saja atau hanya diberikan obat pereda nyeri dari dubur, gak bisa kebayang jika itu yang terjadi pada saya, dengan folikel yang banyak tanpa anastesi, huh. Tetapi pada akhirnya apapun itu, pasti akan saya lewati demi mendapatkan sang buah hati. Hehehe..

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pindah dokter (lagi) ke dr. Hilma Putri Lubis, M.Ked(OG), SpOG. Semoga ini yang terakhir.

Seperti yang telah saya jelaskan di postingan sebelumnya dr. Rachma merujuk saya untuk berkonsultasi dengan dr. Hilma Putri Lubis, M.Ked(OG), SpOG terkait masalah PCOS saya. Seperti yang telah saya katakan juga jika esok harinya bertepatan dengan hari libur nasional, jadi dokter tidak ada di tempat, begitu juga dengan keesokan harinya yang ternyata dokter Hilma sedang mengambil cuti. Saya sudah sangat tidak sabar sehingga saya browsing  untuk mencari dokter obgyn lain, lalu dapatlah nama dr. Hj. Suty Nasution, SpOG (K). Wah tenyata dokter Suty sudah ada gelar konsultannya. Saya pun bersemangat, saya mencari nomor yang bisa dihubungi tetapi ternyata tidak ada. Sampai saya hubungi RS Sarah Medan karena saat saya browsing dokter Suty ini juga menangani pasien di rumah sakit tersebut, tetapi pihak RS pun tidak mengetahui nomor telepon tempat prakteknya. Kebetulan salah satu teman saya menyarankan untuk berkonsultasi dengan salah satu dokter yang dia tau dari temannya juga jika d...

Pengalaman Pertama dan Terakhir HSG

Kata-kata merupakan doa, benar kan? Jadi saya berharap ini merupakan pengalaman HSG saya yang pertama sekaligus yang terakhir. Jadi atas rujukan dr. Mestika Sari Ginting, Spog, saya harus melakukan HSG sebelum memulai rangkaian program kehamilan. Pemeriksaan Histerosalpingografi (HSG), dikenal juga dengan pemeriksaan uterosalpingografi, adalah pemeriksaan sinar X dengan memakai cairan kontras yang dimasukkan ke rongga rahim dan saluran telur (tuba fallopii). Begitulah penjelasan singkat mengenai HSG yang saya kutip dari website  AyahBunda . Saat dijelaskan oleh dr. Mestika Sari Ginting, Spog mengenai prosesnya, sekaligus pengalaman dokter sendiri saat menjalaninya, saya sudah bisa merasakan bagaimana ngilunya proses tersebut, untungnya dokter Mestika meresepkan saya obat penghilang rasa nyeri sebanyak dua butir yang harus dimasukkan melalui dubur setengah jam sebelum pemeriksaan. Pemeriksaan hanya boleh dilakukan pada hari ke 10, 11, atau 12 dihitung dari hari mestruasi pertam...

Total Biaya Inseminasi 3 Mei 2018 - 26 Mei 2018

Daftar ini sebagai rujukan untuk memudahkan bagi pembaca yang berencana untuk melakukan tindakan Inseminasi. Sebelumnya saya mengingatkan jika kemungkinan biaya yang dikeluarkan tiap pasangan akan berbeda, tergantung kondisi masing-masing. Seperti kasus saya ini contohnya, saya tidak mengeluarkan biaya untuk suntik pembesar sel telur, karena saya cukup mengonsumsi obat saja. Suntik pembesar sel telur bisa dilakukan berkali-kali tergantung pertimbangan dokter, dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit, biaya per sekali suntik setahu saya sekitar Rp 450.000,- dan suntik tersebut bisa dilakukan sampai sepuluh kali. Wow lumayan sekali kan, untungnya saya gak perlu suntik, walau sebenarnya prosedur inseminasi yang direncanakan sejak awal haruslah dengan suntikan. Kalau saya ini kan kasusnya dadakan hehehe.. Nah yang kedua, sebelum melakukan prosedur inseminasi, suami diharuskan mengecek sperma di laboratorium dan istri melakukan prosedur pemeriksaan HSG untuk memastikan tidak ada penyum...